Menjadi guru di negeri ini adalah
jalan ninja yang penuh dengan glorifikasi. Kita sering dijuluki "pahlawan
tanpa tanda jasa." Sebuah gelar yang keren di atas kertas, tapi sayangnya
tidak bisa dipakai buat bayar es kopi susu gula aren di kafe-kafe
estetik yang lagi menjamur di lereng gunung atau pinggir sungai.
Sebagai guru dengan slip gaji yang
imut—tipe-tipe gaji yang kalau dilihat bikin pengen ngelus dada sambil
istigfar—keinginan untuk healing itu selalu ada. Setiap kali melihat
story Instagram teman yang lagi asyik ngadem di kafe alam, dikelilingi pohon
pinus, sambil menyesap matcha latte, jiwa raga ini meronta-ronta.
"Ah, kayanya seru ya kalau
habis pusing ngadepin reognya anak-anak di kelas, terus pelariannya ke alam
bebas sambil dengerin gemercik air."
Tapi, di sinilah letak tragedinya.
Pikiran itu biasanya hanya bertahan tepat tiga detik, sebelum akhirnya dihantam
oleh kenyataan hidup yang jauh lebih galak daripada kepala sekolah saat sidak RPP.
Pertempuran di Dalam Kepala
Ketika niat untuk ngadem
sudah bulat, logika dan isi dompet mendadak bikin rapat pleno darurat di dalam
kepala.
Dan tebak siapa yang selalu menang?
Tentu saja Pikiran B. Pikiran yang dipandu oleh kalkulator bertahan hidup.
Pada akhirnya, guru dengan gaji imut
harus menerima kenyataan bahwa moment ngadem terbaik mereka bukan di
bawah naungan pohon pinus kafe hits, melainkan di bawah hembusan angin kipas
angin kosan yang bunyinya sudah mirip baling-baling helikopter purba.
Kafe Alam dan Ilusi Ketenangan
Mari kita jujur-jujuran. Kafe alam
itu kadang cuma menang di foto. Begitu kita sampai sana setelah menempuh
perjalanan jauh yang menanjak (dan bikin motor matic menjerit-jerit), apa yang
kita dapatkan?
Alih-alih ketenangan, kita malah
ketemu sama lautan manusia yang sama-sama stres dan pengen kelihatan aesthetic
di media sosial. Mau dengerin suara alam, yang kedengaran malah suara berisik
rombongan sebelah yang lagi gibah, atau suara tangisan anak kecil yang rewel
karena digigit nyamuk hutan.
Lagian, sebagai guru, ketakutan
terbesar saat nongkrong di tempat umum adalah: ketemu wali murid.
Bayangkan lagi asyik-asyiknya pasang muka melamun puitis menatap lembah,
tiba-tiba ada yang manggil, "Eh, Bu Guru! Lagi healing ya? Anu Bu,
tugas matematika anak saya kemarin kok dapet lima ya?"
Seketika, alam yang tadinya tenang
berubah jadi ruang sidang pleno instan. Liburan gagal, stresnya nambah.
Alternatif Ngadem Gaya Baru
Daripada kalah terus dalam
pertempuran batin antara keinginan nongkrong dan kebutuhan dapur, mending kita
geser standar ngadem kita. Alam itu luas, dan alam tidak pernah menarik
tiket masuk mahal-mahal, yang bikin mahal itu kan manajemen kafenya.
Berikut adalah opsi ngadem gratis
tapi bermakna buat para guru bergaji imut:
- Duduk di Bawah Pohon Beringin Sekolah Saat Jam Istirahat, anginnya sepoi-sepoi, alamnya dapet (ada rumput dan semut), gratis, dan bonusnya bisa sambil mengawasi murid yang hobi balapan lari di koridor.
- Ngopi di Teras Rumah Saat Hujan, seduh kopi sasetan sendiri, duduk di teras, tatap air hujan yang turun. Rasakan sensasi dinginnya tanpa perlu bayar service charge 10%.
- Memanfaatkan AC Ruang Guru, kalau sekolahmu punya ruang guru atau ruang kepala sekolah yang ber-AC, bertahanlah di sana agak lama setelah bel pulang. Itu adalah moment ngadem paling mewah yang dibiayai oleh negara.
Jadi, buat rekan-rekan guru yang
gajinya masih imut-imut tapi seleranya pengen yang sejuk-sejuk: tak usah
berkecil hati kalau pikiran rasionalmu selalu memenangkan perdebatan. Itu
tandanya kamu adalah guru yang cerdas dan visioner—tahu mana yang merupakan
kebutuhan primer, dan mana yang cuma sekadar gengsi kuliner.
Lagian, pahlawan tanpa tanda jasa
itu tugasnya mencerdaskan kehidupan bangsa, bukan memperkaya pemilik kafe
waralaba, kan? Tabah ya, Pak, Bu. Mari kita seduh kopi sasetan kita
masing-masing. Tetap tenang, tetap mengajar, walau dompet bergetar.